Lelaki tua itu duduk berselonjor di dekat pintu. Memegang raket badminton kesayangannya, memeriksa senarnya satu per satu. Sebentar-sebentar ia bergumam ketika membetulkan senar raketnya. Guratan-guratan di wajahnya sudah sangat tampak jelas. Namun wajah itu selalu dihiasi dengan senyuman, bahkan mulut yang tertawa lebar.
Sesaat kemudian muncul kucing kecil kesayangannya. Seolah mendengar panggilan induknya, kucing itupun melangkah menuju lelaki tua yang masih duduk berselonjor dengan mengenakan celana pendek dan kaos berwarna coklat itu. Diletakkannya raket kesayangannya, tangan itu lalu merangkul kucing imut di depannya. Dielus-elusnya kucing itu seolah ingin berbagi kasih sayang, dipujinya kucing itu sebagai kucing yang selalu nurut kalo dipanggil, dan selalu menemani jalan-jalan di pagi hari. Sambil bercanda denganku, tangannya selalu mengelus kucing yang bergelayut manja di lengannya.
Kucoba bertanya iseng pada lelaki itu, "Sayang banget sih sama kucing itu?" Dan jawabannya sungguh membuatku merasa sedih sekaligus tersenyum, "Lha kamu belum kasih bapak cucu. Bapak sudah pengen gendong anak kecil".
Love you so much, Bapak........
Sesaat kemudian muncul kucing kecil kesayangannya. Seolah mendengar panggilan induknya, kucing itupun melangkah menuju lelaki tua yang masih duduk berselonjor dengan mengenakan celana pendek dan kaos berwarna coklat itu. Diletakkannya raket kesayangannya, tangan itu lalu merangkul kucing imut di depannya. Dielus-elusnya kucing itu seolah ingin berbagi kasih sayang, dipujinya kucing itu sebagai kucing yang selalu nurut kalo dipanggil, dan selalu menemani jalan-jalan di pagi hari. Sambil bercanda denganku, tangannya selalu mengelus kucing yang bergelayut manja di lengannya.
Kucoba bertanya iseng pada lelaki itu, "Sayang banget sih sama kucing itu?" Dan jawabannya sungguh membuatku merasa sedih sekaligus tersenyum, "Lha kamu belum kasih bapak cucu. Bapak sudah pengen gendong anak kecil".
Love you so much, Bapak........





