sisca dianita blog. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Hei Wanita, Cantik itu Kamu!!

Dulu ketika masih duduk di bangku SMP, saya hanyalah gadis kecil yang sangat tidak menarik tapi mempunyai rasa percaya diri yang besar. Bagaimana tidak menarik? Saat itu saya berambut pendek, kurus, dan hitam keling. Paduan sempurna untuk bisa dikatakan "jelek". Keinginan untuk bergabung menjadi anggota drumband sekolahpun tidak terlaksana. Memang saya adalah anak yang tidak terkenal saat SMP.

Ketika masuk di bangku SMA, kondisi tidak terlalu berbeda. Namun rasa percaya diri yang tinggi dan keinginan besar untuk selalu menjadi pusat perhatian, membuat saya terkenal di kalangan teman-teman saat itu. Dengan penampilan yang sedikit lebih mengenal make up ( meski hanya sekedar lipgloss dan bedak ), rambut panjang sebahu, badan lebih berisi, prestasi ekstra kurikuler yang bisa dibilang lumayan namun tetap dengan kulit sawo matang, membuat saya tergabung dalam Vokal Group SMA yang terdiri dari 5 orang dan membawa harum nama sekolah karena menjadi juara umum vokal grup se-Madiun saat itu. Selain termasuk menonjol dalam bidang seni, saya tergabung dalam satu kelompok elite ( sebut begitu saja ) di SMA itu dengan nama Crazy Sexy Cool. Kalau sudah tergabung di kelompok itu, pelajar lain pasti takut mengutak-atik anggota kelompok Crazy Sexy Cool. Karena kelompok ini adalah anak-anak yang modis, cantik dan ganteng ( meski saya nggak cantik saat itu ), keren tongkrongannya ( pinjam istilah anak sekarang ), dan bandel karena menjadi sorotan guru-guru. Hehehehhe....

Berlanjut masa kuliah, saya lagi-lagi bukanlah orang yang menonjol dalam hal kecantikan. Masih dengan kondisi kulit coklat sawo matang cenderung hitam, rambut ikal cenderung keriting semut, dan badan yang nggak tahu kenapa semakin kurus. Namun entah kenapa, saya selalu percaya diri dengan kondisi yang ada dan aktif di himpunan mahasiswa Universitas tempat saya meraih gelar sarjana. Herannya, banyak lho yang suka dan pengen jadi pacar saya waktu itu. Mungkin karena saat itu mata mereka katarak ya? Hahahahaa....

Suatu ketika ada seorang laki-laki yang pengen dekat dengan saya lebih dari sekedar teman. Ya kalo anak sekarang bilang gebetan. Saya tanya kepada laki-laki itu, "Mengapa bisa suka sama saya? Saya kan jelek, masih banyak tuh yang cantik". Jujur saya mengharapkan dia menjawab,"Kamu cantik kok". Tapi ternyata dari mulutnya terdengar satu jawaban yang membuat saya sempat kaget dan tersanjung. Ia bilang, "Kamu tuh nggak cantik, juga nggak jelek. Tapi kamu enak banget diajak ngobrol, nyambung, dan nggak jaim". Deg!! Yaaahh nggak cantik deh ( sempat kecewa sih ) :D

Tahun sudah berganti, jaman sudah semakin maju. Suatu hari bertemu dengan kenalan seorang wanita cantik yang selalu gemar mengulik tubuh, entah itu operasi hidung, suntik silikon, dsb. Namun dengan niatan saya yang ingin tampil apa adanya, saya tolak ajakannya untuk melakukan hal yang sama dengannya. Saya yakin, Allah menciptakan kita bukan untuk dirubah total, tapi sedikit dipoles.

Seiring berjalannya waktu, saya mengenal salon dan mulai memperhatikan penampilan. Sampai suatu kesempatan beberapa kali bertemu dengan teman-teman lama - baik teman SMP, SMA atau kuliah - bahkan dosen pengajar, mereka selalu bilang "Kamu berubah lho. Lebih cantik, lebih seger". Jujur tidak munafik dan tanpa mengurangi rasa rendah hati, itu semua membuat saya senang, bahagia, tersanjung dan GR of course. Berarti tidak sia-sia selama ini saya menghargai diri saya dengan merawat diri. Malah ketika reuni beberapa waktu lalu, sempat ada teman pria yang bilang, "Nyesel saya putus dari kamu dulu. Tau gini aku tunggu sejak dulu". Hahahaha....Thanks guys.

Satu hal yang sebenarnya ingin saya sampaikan disini, beauty comes from within. Tidak perlu menjalani operasi berjuta-juta rupiah hanya untuk menjadi cantik. Kalau saja anda mau menerima diri anda apa adanya. Be confident! Each one of us is beautiful. Sama seperti yang dibilang Bruno Mars.....Just The Way You are.....

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pilihan vs Kebahagiaan

Ada satu cerita ketika saya bepergian di suatu kota dimana disitu tinggal seorang perempuan cantik kira-kira seumuran dengan saya (yang belum tahu umur saya, tebak aja ^-^). Kebetulan dia adalah teman lama kurang lebih 6 tahun ini. Kami sangat dekat. Dekat karena hubungan pertemanan. Lama tidak saling bertemu. Ketika pertemuan itu ada, sempat terkejut melihat perubahan drastis penampilannya. Dulu dia begitu polos. Mungkin kalau boleh saya bilang...cenderung terkesan lugu. Sekarang perubahannya sangat mencolok. Dari yang dulu tanpa make up, rambut panjang selalu digelung, baju yang bisa dikatakan nggak fashionable, sekarang tampil lebih modis, make up yang membuat wajahnya terlihat segar di usia kepala 3, dan rambut panjang semi girly. Cantik sekali!

Cerita panjang lebar tentang dua anaknya yang sekarang sudah masuk di SD dan PAUD, rumah yang baru dibelinya di kawasan elit, kerjaan dia yang nggak kenal waktu, dan sebagainya. Dia juga cerita bahwa sekarang dirinya harus berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya. Dia memutuskan bercerai karena sang mantan suami tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang semakin besar. Meski dia harus melakoni apa garis tangan kehidupannya, senyum itu selalu ada di wajahnya dan semakin membuat dia tampil cantik.

Namun satu kejujuran membuatnya meneteskan airmata ketika bercerita tentang satu hal yang benar-benar privasi kepada saya. Ini terkait dengan bagaimana dia mendapat tambahan dana segar untuk kelanjutan hidupnya dan anak-anaknya. Selama kurang lebih 5 tahun ini, ia menjadi istri siri seorang pria berstatus suami orang. Gaji per bulan yang ia dapatkan dari pekerjaan sehari-hari tidak mencukupi hidup yang semakin susah di jaman ini. Dengan air mata berlinang namun senyum tersungging di wajahnya, ia mengatakan bahwa dirinya bahagia.

Saya bukanlah seorang hakim yang bisa men-judge jalan yang ia ambil, saya bukanlah seorang malaikat yang setiap saat bisa membantu dia, saya bukanlah orang suci yang akan mengolok-ngolok nyinyir kisahnya, dan saya bukanlah golongan orang-orang yang ikut menghakimi keputusannya. Yang jelas....Happiness isn`t a dependency. It`s a desicion.

-special for "A"-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LIFE HAS MANY DIFFERENT CHAPTERS FOR US, AND ONE BAD CHAPTERS DOESN`T MEAN THE END OF THE BOOK :)

Jam di studio siar menunjukkan 20.00WIB.......
Siap handle mixer dan mic di depan mulut. Dua jam ke depan temani pendengar di sesi curhat. Satu program yang bikin kita bersikap seolah-olah kita bijaksana dan berdiri di posisi netral.

"Tulululut...tululuulutt...."
Penelpon I masuk : "Saya perempuan usia 26 tahun. Pacaran sudah 6 tahun. Semuanya lancar sampai suatu ketika pacar mengajak saya untuk menikah. Saya bingung. Memang saya sudah pernah bertemu dengan kedua orang tuanya, tapi saya belum pernah mengenalkan dia ke ortu saya. Saya merasa bersalah terhadapnya karena sampai sekarang dia belum tahu identitas saya yang asli, mulai nama, alamat dan lain sebagainya. Bagaimana saya harus bersikap?"

"Tululuttt...tululutt...."
Penelpon ke-2 : Saya wanita satu-satunya dalam keluarga dan sampai sekarang belum menikah. Orang tua selalu menyalahkan saya padahal sayalah yang membiayai hidup orang tua. Orang tua menganggap saya tidak bisa membahagiakan mereka, hanya karena saya belum punya calon pendamping. Saya harus bagaimana?"

"Kling..."
SMS kesekian: "Saya adalah pria yang sudah beristri. Beberapa bulan ini saya kembali di titik nol. Saya bangkrut. Istri marah-marah terus dan mengancam berangkat ke luar negeri sebagai TKW jika saya tidak bisa kembali mencukupi kehidupan sehari-hari kami. Saya sudah hampir putus asa dengan kehidupan saya. Saya sudah berusaha tapi belum mendapat hasil. Apa yang harus saya lakukan untuk menghadapi istri saya?"

Ini adalah sebagian dari keluhan-keluhan tentang kehidupan yang disampaikan pendengar saya di radio. Kalau ditulis disini semuanya, saya jamin tidak akan mampu tangan saya menulis semua. Saya juga yakin akan puaaanjaang dan membosankan jika tulisan ini hanya berisi keluhan-keluhan kehidupan.

Tulisan ini hanya sebagai gambaran bahwa kita tidak sendirian dalam menjalani hidup. Bukan hanya anda atau saya yang mempunyai permasalahan di dunia ini. Jangan pernah merasa bahwa masalah kitalah yang paling berat, sampai-sampai anda berpikiran dan mempunyai stigma "sayalah manusia paling malang di dunia". Masih banyak saudara-saudara kita di luaran sana yang mempunyai problem hidup, bahkan mungkin lebih berat dari kita.

Akan lebih bagus kalau kita mencoba mencari satu solusi tepat untuk setiap permasalahan, daripada kita terus menerus mengeluh dan menyesali apa yang sudah terjadi dan menimpa kita. Maybe you can wear a smile to cover the tears, semata-mata untuk menyemangati hidup anda dan meyakinkan diri bahwa hidup ini masih bermakna. Yakinlah bahwa setiap permasalahan pasti ada jalan keluar. Sometimes we must get hurt in order to grow, and we must fail in order to know....:)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Because as a woman, we all know that a woman's work is never done.

Kalimat di atas baru - baru ini saja saya terapkan dalam jiwa saya. Mungkin karena sekarang saya menuju masa transisi menjadi seorang wanita ya. Kenapa saya bilang "menuju"? Karena bagi saya, seorang wanita sempurna adalah wanita yang bisa memberikan keturunan. Sementara saya belum mencapai grade itu.

Dulu kalo lihat ibu pontang - panting ngurusi kerjaan rumah setelah pulang kantor, saya pasti bertanya pada beliau, "Kenapa sih Ibu repot-repot di dapur?" Atau pertanyaan lain yang sering saya ucapkan pada beliau,"Kenapa sih Ibu nggak istirahat dulu. Risih saya lihat ibu kesana kemari". Dan jawaban beliau sangat-sangat lempeng : "Ya beginilah jadi perempuan".

Dulu saya pernah berkata dalam hati,"Ah besok kalo udah berstatus istri, saya nggak akan seperti ibu. Semua serahkan pembantu". Dan beliaupun pasti hanya tertawa kecil mendengar jawaban saya. Mungkin dalam hati beliau berkata,"Kamu belum merasakan nak". Ahh..kalo ingat bayangan my mom jadi pengen nangis.

Sekarang setelah berstatus istri ( meski belum berstatus ibu), kalimat ibu itu bener juga. Pagi-pagi sebelum suami bangun, saya berusaha membuka mata dan membuang jauh rasa malas untuk segera ke dapur. Meski tidak bisa memasak makanan canggih, at least coffe in the morning sudah ada di meja makan mungil itu. Syukur-syukur kalo masih ada waktu lebih, saya bisa nyalakan rice cooker buat nanak nasi, bikin omelette, goreng ayam, nasi goreng atau makanan simple buat breakfast. Tidak hanya itu. Saya harus menyingkirkan rasa dingin buat berkutat dengan mesin cuci di pagi hari, menyapu halaman depan dan taman depan rumah, dan masih banyak lagi hal kecil lainnya yang dampaknya begitu besar. Namun semua itu terasa sangat ringan karena suami selalu membantu pekerjaan rumah tangga. Fabulously!

Setelah kerjaan rumah selesai (ato lebih tepatnya dianggap selesai), saya harus segera menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor dan berkutat dengan kesibukan sendiri. Sampai rumah, kembali pekerjaan rumah sedikit dikerjakan sebelum bisa bersantai berdua sampai saatnya tidur. Kecuali hari Minggu dan hari libur, mungkin saya bisa agak bersantai. Itu sudah jadi tugas pembantu yang cuman datang seminggu sekali buat bersihkan rumah total.

Ini belum seberapa. Jika nanti baby sudah hadir di tengah-tengah kami, pasti akan lebih ribet lagi. Tapi saya yakin pasti menyenangkan :)

Saya setuju dengan pendapat ibu saya. Saya bangga menjadi wanita. Because as a woman, we all know that a woman`s work is never done :)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS