sisca dianita blog. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

**Mama...You are My Queen**

Tidak ada perjuangan sehebat ketika ibu melahirkan. Tidak ada pengabdian setulus ibu membesarkan dan mendidik anak. Kasih ibu sepanjang hayat. Namun, terkadang pengorbanan ibu dicederai. Tidak sedikit anak yang menjadi durhaka. Mengingkari dan menistai ibu.

Tulisan ini khusus for my Mom.......yang mung
kin suatu saat akan baca coretan nggak mutu-ku ini.
" Ibu....aku bangga jadi anak ibu. Selama kurang lebih 30 tahun ini aku selalu nyusahin ibu. Sejak aku diberi nafas kehidupan oleh Yang di Atas, kemudian dilahirkan sampai sekarang, aku selalu nyusahin ibu. Aku nakal, aku bandel, aku selalu bikin susah ibu. Aku belum bisa jadi anak yang dibanggakan.

Ibu....jujur aku malu sama ibu. Sebagai seorang anak perempuan, aku nggak bisa kayak ibu. Belum bisa membagi waktu antara kerjaan rum
ah dan merawat suami. Belum bisa merawat dan menyenangkan ibu. Maaf ya bu.....

Kadang kalo harus jauh dari ibu, aku kangen omelannya.... kangen nyap-nyapnya.......kangen sinisnya...hehhehehe...tapi di hati yang paling dalam, aku tahu itu semua karena ibu sayang aku. Iya khan bu???.....( ato jangan - jangan emang sudah habit ibu suka ngomel ya? hihihihiks..)

Ibu....aku memang belum bisa bikin ibu seneng, bahagia dan damai di hati. Tapi aku janji suatu saat nanti aku akan bahagiakan ibu dengan caraku. Aku akan tetap berusaha nggak bikin ibu nangis, nggak bikin ibu sedih, nggak bikin ibu mikir aku yang sudah tua
ini. Sudah bukan saatnya ibu mikir hidupku, bu. Sekarang saatnya aku yang mikir ibu.

Ibu....mungkin sekarang ini aku masih ngerepotin ibu. Tapi sabar ya bu....aku juga terus berusaha mendapat yang terbaik untuk semua. Aku cuma harapkan kesabaran ibu sekali lagi.....

Ibu....mungkin sebagian orang merayakan Hari Ibu dengan sesuatu yang istimewa. Tapi aku nggak punya sesuatu yang istimewa itu buat ibu. Aku cuma berjanji dalam hati dan berdoa agar ibuku diberikan kesehatan, umur yang panjang, rezeki melimpah dan selalu diberikan kesabaran dalam menghadapi segala cobaan. Aku yakin, suatu saat nanti ibu akan bahagia.

Ibu.....satu hal yang perlu ibu ketahui. Sampai kapanpun aku bangga jadi anak ibu. Ibuku adalah orang yang tegar...ibu yang sayang keluarga...ibu yang kuat. Kapan aku bisa seperti ibu??? Menjadi orang yang sabar.......

Ibu....selamat hari ibu,ya. Semoga di tahun depan, ibu akan lebih bahagia lagi....Amiennn.

Ibu...Aku Sayang Ibu.....You are My Queen....




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

NGGAK NYANGKA JADI KAYAK SEKARANG


Cerita dikit boleh dong........

Dulu waktu kecil, saya punya cita-cita setinggi gunung sedalam lautan .... hehehhhehe... Pernah pengen jadi Insinyur Pertanian. Tapi keinginan itu cuma bertahan 2 tahun saat berusia 6 th. Lihat seorang dokter sedang memeriksa pasien, saya jadi pengen seperti mereka. Tapi nggak lama juga.....Akhirnya, saya putuskan untuk menjadi orang yang bisa membahagiakan orang tua ( meskipun masih terus merasa belum bisa membuat orang tua bangga ).

Dulu saya nggak pernah bercita-cita jadi seorang MC/Pembawa Acara atau presenter radio seperti sekarang. Gimana mau bercita-cita, bayangan aja nggak punya. Tapi untungnya pas jaman sekolah dulu, saya gabung di berbagai aktivitas sekolah seperti OSIS, pleton inti alias baris-berbaris. paduan suara, vocal group, dll. Dari berbagai aktivitas itu, saya merasa kayaknya enak ya bisa tampil di muka umum. Dan ternyata, saya merasakannya sekarang…

Menjadi seorang MC profesional nggak semudah yang orang kira. Banyak juga yang suka kasih komentar :”Enak ya jadi MC, kerjanya gampang, duitnya banyak. Padahal cuma ngomong dikit-dikit plus senyum-senyum”. Hei....not that easy guys….

Paling-tidak, saya sendiri bekerja-keras untuk setiap performance saya, baik untuk acara resmi maupun acara santai. Dua-duanya menuntut persiapan, latihan, kemampuan beradaptasi, kemampuan menyerap informasi, kemampuan bicara dan mengolah kalimat yang tepat, penampilan yang sesuai dengan jenis acara, dan kepekaan akan situasi, sehingga siap terhadap perubahan yang mungkin terjadi. Jam-terbang alias pengalaman akan memberi tambahan rasa percaya diri, ilmu, dan kematangan diri.

Jendela panggung yang terbuka ( istilahnya keren ya... ), benar-benar memberi saya dunia baru yang penuh perjuangan. Beradaptasi dengan berbagai lingkungan kerja dan karakter manusia, mengelola waktu dan energi supaya bisa tampil bagus, terus-menerus menambah wawasan dengan banyak membaca dan bergaul, menerima dengan arif segala kritikan dan pujian. Fiuuuuh…itu semua bisa sangat sangat melelahkan lahir-batin. Sumpah !!! Tapi kalau dinikmati setiap detiknya, maka semua menjadi jalinan langkah yang berarti dan menyenangkan…. Kata orang bijak sih... seterjal apapun jalan itu…kadang memang perlu berhenti untuk mengambil nafas panjang supaya bisa melanjutkan lagi perjalanan yang masih mendaki… Bener guys, life is a journey…

Berawal jadi protokol upacara di sekolah, MC 17-an di kampung, MC acara wisuda di kampus, rasa percaya diri itu bertambah ketika diterima sebagai penyiar di Radio DCS FM Madiun tahun 1999. Sambil kuliah (di Sastra Inggris Universitas Widya Mandala Madiun ), saya mulai belajar membagi waktu, energi, dan perasaan sebagai seorang profesional. Ya, satu lagi daun jendela itu terbuka…dan saya melihat sesuatu yang lebih luas lagi di sana…

Sejak itulah aktivitas lain susul-menyusul saya tekuni. Permintaan menjadi MC di berbagai acara mengalir, benar-benar mengasikkan, tapi juga diwarnai jatuh-bangun nggak karuan. Saya belajar menjadi diri sendiri sekaligus bersosialisasi alias menjadi makhluk sosial yang harus pandai beradaptasi.
Tawaran menjadi host acara JTV Surabaya pun datang, meskipun syuting dilakukan di kota tercintaku Madiun. Asal tau aja, sebelum bener - bener terjun menjadi MC di berbagai event, saya pernah menjadi home singer alias penyanyi di Hotel Merdeka - salah satu hotel ternama di kota Madiun. Tapi nggak lama...dengan alasan waktu yang terlalu larut setiap harinya serta pandangan orang Madiun yang mungkin masih terlalu kolot ketika melihat seorang wanita pulang jam 12 malam tiap harinya.

Yang begitu saya syukuri dari pekerjaan sebagai MC selama ini, adalah kesempatan bertemu begitu banyak orang dan belajar apapun dari mereka. Betapa bahagianya ketemu dengan berbagai pribadi yang unik dari berbagai kota di Indonesia.

Pengalaman kurang lebih 10 tahun ( sampai sekarang saya masih jalani profesi ini ) menjadi penyiar di Radio DCS FM Madiun merupakan jendela kehidupan yang mengalirkan pengalaman luar biasa, yang nggak mungkin terhapus begitu saja.

Saya juga belajar untuk nggak terpaku pada kesalahan yang sudah dibuat, melainkan segera mengontrol diri dan konsentrasi pada tugas selanjutnya. Misalnya kita sudah terlanjur salah nyebutin nama penyanyi atau keseleo lidah atau slip of the tongue. Jangan terlalu dipikirin karena malah bisa mengganggu konsentrasi selanjutnya. Yang penting ambil kesempatan berikutnya untuk meralat dan lanjutkan siaran dengan lebih konsentrasi sehingga nggak keseleo lidah lagi.

Peluh, tawa, canda, tangis, debat, teriakan, tepukan pemberi semangat, dan doa bersama di setiap awal serta akhir acara adalah bukti seribu macam perasaan dan pengalaman yang pernah saya punya. Semoga saya masih diberi kesemapatn untuk mengayunkan langkah demi langkah ke depan….

Masih banyak lagi tulisan yang bakal saya coretkan...karena perjalanan sebagai orang di dunia hiburan seperti sekarang nggak akan berhenti sampai disini. Paling tidak, saya masih pengen lebih dalam lagi menekuni dunia yang sudah klik di hati ini.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Perempuan Lajang....Why Not??

Ini sedikit obrolan ringan untuk kita - khususnya wanita - yang masih lajang ( meskipun saya sendiri sudah menikah ± 1 th ).

Dulu - ketika usia menginjak angka 25 - tidak terpikirkan sedikitpun kata cepat menikah di otak saya, walopun seorang pria dengan selisih usia 5 tahun selalu setia temani hari-hari yang kayaknya indah untuk dilalui. Ada beberapa alasan mengapa kata "menikah" menjadi phobia tersendiri buat saya saat itu. Salah satunya adalah "ingin mengembangkan diri menjadi wanita karir profesional".
Namun dengan berjalannya waktu...dan karena desakan orang tua ( tetangga juga sedikit rese`....temen-temen kantor juga ikut andil ), maka keputusan menikah itu diambil setelah masuk usia 28 th. Usia ( katanya orang-orang ) yang sudah matang untuk mengarungi biduk rumah tangga. Fuih... Bukan berarti saya menikah dengan kondisi keterpaksaan hidup bersama suami...tapi (mungkin) saya menikah dengan kekhawatiran akan karir yang bisa jadi berhenti atas permintaan suami......( biasanya alasan kehadiran baby ).

Baru-baru ini, saya baca di salah satu artikel menarik tentang "untung rugi perempuan lajang".
Ada satu studi menunjukkan, ternyata uang dianggap membuat hidup lebih baik, bukan lagi pasangan hidup. Berarti, menikah tidak lagi menjadi prioritas utama bila penghasilan seseorang belum memadai. Namun bagi kebanyakan perempuan di Indonesi, melajang dalam usia dewasa lebih menimbulkan rasa tidak nyaman. Mereka lebih banyak berada dalam posisi sulit dan takut dilecehkan. ( lagi-lagi tetangga dan lingkungan yang menjadi juri dalam kasus ini ). Mereka juga harus berhadapan dengan pandangan masyarakat yang tradisional, yang rata-rata menyudutkan perempuan lajang dengan pertanyaan terus-menerus, label menyakitkan, atau memandang dengan tatapan prihatin atau kasihan. Tetap saja perempuan lajang dipandang lebih negatif daripada pria lajang.

Tapi jika seandainya seluruh manusia menyadari....Hidup melajang sebenarnya dapat memberi kesempatan lebih leluasa mengambil berbagai langkah, misalnya melakukan kesenangan, memerhatikan kebutuhan diri sendiri, bebas mempunyai banyak teman dekat, dan lebih bersemangat meniti karier bagi yang bekerja. Karena itu, sebenarnya perempuan lajang juga punya banyak kesempatan memdapat kepuasan hidup dan menikmati kebahagiaan.

Coba kita tilik lagi lebih jauh. Di kota-kota besar perempuan melajang memang dapat memperoleh keuntungan. Kebanyakan mempunyai jenjang pendidikan yang baik, mereka juga biasanya perempuan bekerja yang mempunyai penghasilan sendiri. Mereka punya banyak akses membentuk kelompok senasib karena bagaimanapun perempuan lajang masih merupakan kelompok minoritas di masyarakat mana pun. Mereka dapat saling berbagi perasaan, baik melalui internet maupun tatap muka berkala. Dalam perbincangan, mereka juga masih sering mempertanyakan, ”Apakah kami salah karena kami sukses dalam pekerjaan? Karena kami pandai? Atau karena kami terbiasa mandiri? Apa salah kalau itu semua membuat banyak pria menjadi minder?” Dengan kecamuk perasaan yang sama, mereka bisa saling menjalin persahabatan.

Bagaimana dengan perempuan yang tinggal di kota kecil? Mungkin akses pada kelompok internet agak terbatas, tetapi tidak tertutup jalan menjalin persahabatan dengan siapa pun. Saran saya cuma satu : Daripada mencemaskan hal-hal pada masa mendatang, lebih baik mengembangkan potensi diri.

Dengan tulisan ini...bukan berarti saya tidak setuju dengan wanita yang buru-buru memutuskan menikah. Karena saya sendiri saat ini juga sudah berstatus istri.
Moga saja tulisan ini sedikit bisa memberi semangat kepada anda wanita yang masih menyibukkan diri dengan status "lajang". GO GIRL !!

( For my husband.....I Luv U all the time )

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS