Ini sedikit obrolan ringan untuk kita - khususnya wanita - yang masih lajang ( meskipun saya sendiri sudah menikah ± 1 th ).
Dulu - ketika usia menginjak angka 25 - tidak terpikirkan sedikitpun kata cepat menikah di otak saya, walopun seorang pria dengan selisih usia 5 tahun selalu setia temani hari-hari yang kayaknya indah untuk dilalui. Ada beberapa alasan mengapa kata "menikah" menjadi phobia tersendiri buat saya saat itu. Salah satunya adalah "ingin mengembangkan diri menjadi wanita karir profesional".
Dulu - ketika usia menginjak angka 25 - tidak terpikirkan sedikitpun kata cepat menikah di otak saya, walopun seorang pria dengan selisih usia 5 tahun selalu setia temani hari-hari yang kayaknya indah untuk dilalui. Ada beberapa alasan mengapa kata "menikah" menjadi phobia tersendiri buat saya saat itu. Salah satunya adalah "ingin mengembangkan diri menjadi wanita karir profesional".
Namun dengan berjalannya waktu...dan karena desakan orang tua ( tetangga juga sedikit rese`....temen-temen kantor juga ikut andil ), maka keputusan menikah itu diambil setelah masuk usia 28 th. Usia ( katanya orang-orang ) yang sudah matang untuk mengarungi biduk rumah tangga. Fuih... Bukan berarti saya menikah dengan kondisi keterpaksaan hidup bersama suami...tapi (mungkin) saya menikah dengan kekhawatiran akan karir yang bisa jadi berhenti atas permintaan suami......( biasanya alasan kehadiran baby ).Baru-baru ini, saya baca di salah satu artikel menarik tentang "untung rugi perempuan lajang".
Ada satu studi menunjukkan, ternyata uang dianggap membuat hidup lebih baik, bukan lagi pasangan hidup. Berarti, menikah tidak lagi menjadi prioritas utama bila penghasilan seseorang belum memadai. Namun bagi kebanyakan perempuan di Indonesi, melajang dalam usia dewasa lebih menimbulkan rasa tidak nyaman. Mereka lebih banyak berada dalam posisi sulit dan takut dilecehkan. ( lagi-lagi tetangga dan lingkungan yang menjadi juri dalam kasus ini ). Mereka juga harus berhadapan dengan pandangan masyarakat yang tradisional, yang rata-rata menyudutkan perempuan lajang dengan pertanyaan terus-menerus, label menyakitkan, atau memandang dengan tatapan prihatin atau kasihan. Tetap saja perempuan lajang dipandang lebih negatif daripada pria lajang.
Tapi jika seandainya seluruh manusia menyadari....Hidup melajang sebenarnya dapat memberi kesempatan lebih leluasa mengambil berbagai langkah, misalnya melakukan kesenangan, memerhatikan kebutuhan diri sendiri, bebas mempunyai banyak teman dekat, dan lebih bersemangat meniti karier bagi yang bekerja. Karena itu, sebenarnya perempuan lajang juga punya banyak kesempatan memdapat kepuasan hidup dan menikmati kebahagiaan.
Coba kita tilik lagi lebih jauh. Di kota-kota besar perempuan melajang memang dapat memperoleh keuntungan. Kebanyakan mempunyai jenjang pendidikan yang baik, mereka juga biasanya perempuan bekerja yang mempunyai penghasilan sendiri. Mereka punya banyak akses membentuk kelompok senasib karena bagaimanapun perempuan lajang masih merupakan kelompok minoritas di masyarakat mana pun. Mereka dapat saling berbagi perasaan, baik melalui internet maupun tatap muka berkala. Dalam perbincangan, mereka juga masih sering mempertanyakan, ”Apakah kami salah karena kami sukses dalam pekerjaan? Karena kami pandai? Atau karena kami terbiasa mandiri? Apa salah kalau itu semua membuat banyak pria menjadi minder?” Dengan kecamuk perasaan yang sama, mereka bisa saling menjalin persahabatan.
Bagaimana dengan perempuan yang tinggal di kota kecil? Mungkin akses pada kelompok internet agak terbatas, tetapi tidak tertutup jalan menjalin persahabatan dengan siapa pun. Saran saya cuma satu : Daripada mencemaskan hal-hal pada masa mendatang, lebih baik mengembangkan potensi diri.
Dengan tulisan ini...bukan berarti saya tidak setuju dengan wanita yang buru-buru memutuskan menikah. Karena saya sendiri saat ini juga sudah berstatus istri.
Moga saja tulisan ini sedikit bisa memberi semangat kepada anda wanita yang masih menyibukkan diri dengan status "lajang". GO GIRL !!( For my husband.....I Luv U all the time )






1 komentar:
pa? wanita emang slalu harus dibawah derajat pria??? pa wanita nikah harus terpingit & terpasung???
cowok yg pasung status wanita,mending pulang aja ngempeng mama.... ni modern bro...
cowok bener2 angkuh, sok, tp ndak konsisten !!!
Posting Komentar