Kalimat di atas baru - baru ini saja saya terapkan dalam jiwa saya. Mungkin karena sekarang saya menuju masa transisi menjadi seorang wanita ya. Kenapa saya bilang "menuju"? Karena bagi saya, seorang wanita sempurna adalah wanita yang bisa memberikan keturunan. Sementara saya belum mencapai grade itu.
Dulu kalo lihat ibu pontang - panting ngurusi kerjaan rumah setelah pulang kantor, saya pasti bertanya pada beliau, "Kenapa sih Ibu repot-repot di dapur?" Atau pertanyaan lain yang sering saya ucapkan pada beliau,"Kenapa sih Ibu nggak istirahat dulu. Risih saya lihat ibu kesana kemari". Dan jawaban beliau sangat-sangat lempeng : "Ya beginilah jadi perempuan".
Dulu saya pernah berkata dalam hati,"Ah besok kalo udah berstatus istri, saya nggak akan seperti ibu. Semua serahkan pembantu". Dan beliaupun pasti hanya tertawa kecil mendengar jawaban saya. Mungkin dalam hati beliau berkata,"Kamu belum merasakan nak". Ahh..kalo ingat bayangan my mom jadi pengen nangis.
Sekarang setelah berstatus istri ( meski belum berstatus ibu), kalimat ibu itu bener juga. Pagi-pagi sebelum suami bangun, saya berusaha membuka mata dan membuang jauh rasa malas untuk segera ke dapur. Meski tidak bisa memasak makanan canggih, at least coffe in the morning sudah ada di meja makan mungil itu. Syukur-syukur kalo masih ada waktu lebih, saya bisa nyalakan rice cooker buat nanak nasi, bikin omelette, goreng ayam, nasi goreng atau makanan simple buat breakfast. Tidak hanya itu. Saya harus menyingkirkan rasa dingin buat berkutat dengan mesin cuci di pagi hari, menyapu halaman depan dan taman depan rumah, dan masih banyak lagi hal kecil lainnya yang dampaknya begitu besar. Namun semua itu terasa sangat ringan karena suami selalu membantu pekerjaan rumah tangga. Fabulously!
Setelah kerjaan rumah selesai (ato lebih tepatnya dianggap selesai), saya harus segera menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor dan berkutat dengan kesibukan sendiri. Sampai rumah, kembali pekerjaan rumah sedikit dikerjakan sebelum bisa bersantai berdua sampai saatnya tidur. Kecuali hari Minggu dan hari libur, mungkin saya bisa agak bersantai. Itu sudah jadi tugas pembantu yang cuman datang seminggu sekali buat bersihkan rumah total.
Ini belum seberapa. Jika nanti baby sudah hadir di tengah-tengah kami, pasti akan lebih ribet lagi. Tapi saya yakin pasti menyenangkan :)
Saya setuju dengan pendapat ibu saya. Saya bangga menjadi wanita. Because as a woman, we all know that a woman`s work is never done :)
Dulu kalo lihat ibu pontang - panting ngurusi kerjaan rumah setelah pulang kantor, saya pasti bertanya pada beliau, "Kenapa sih Ibu repot-repot di dapur?" Atau pertanyaan lain yang sering saya ucapkan pada beliau,"Kenapa sih Ibu nggak istirahat dulu. Risih saya lihat ibu kesana kemari". Dan jawaban beliau sangat-sangat lempeng : "Ya beginilah jadi perempuan".
Dulu saya pernah berkata dalam hati,"Ah besok kalo udah berstatus istri, saya nggak akan seperti ibu. Semua serahkan pembantu". Dan beliaupun pasti hanya tertawa kecil mendengar jawaban saya. Mungkin dalam hati beliau berkata,"Kamu belum merasakan nak". Ahh..kalo ingat bayangan my mom jadi pengen nangis.
Sekarang setelah berstatus istri ( meski belum berstatus ibu), kalimat ibu itu bener juga. Pagi-pagi sebelum suami bangun, saya berusaha membuka mata dan membuang jauh rasa malas untuk segera ke dapur. Meski tidak bisa memasak makanan canggih, at least coffe in the morning sudah ada di meja makan mungil itu. Syukur-syukur kalo masih ada waktu lebih, saya bisa nyalakan rice cooker buat nanak nasi, bikin omelette, goreng ayam, nasi goreng atau makanan simple buat breakfast. Tidak hanya itu. Saya harus menyingkirkan rasa dingin buat berkutat dengan mesin cuci di pagi hari, menyapu halaman depan dan taman depan rumah, dan masih banyak lagi hal kecil lainnya yang dampaknya begitu besar. Namun semua itu terasa sangat ringan karena suami selalu membantu pekerjaan rumah tangga. Fabulously!
Setelah kerjaan rumah selesai (ato lebih tepatnya dianggap selesai), saya harus segera menyiapkan diri untuk berangkat ke kantor dan berkutat dengan kesibukan sendiri. Sampai rumah, kembali pekerjaan rumah sedikit dikerjakan sebelum bisa bersantai berdua sampai saatnya tidur. Kecuali hari Minggu dan hari libur, mungkin saya bisa agak bersantai. Itu sudah jadi tugas pembantu yang cuman datang seminggu sekali buat bersihkan rumah total.
Ini belum seberapa. Jika nanti baby sudah hadir di tengah-tengah kami, pasti akan lebih ribet lagi. Tapi saya yakin pasti menyenangkan :)
Saya setuju dengan pendapat ibu saya. Saya bangga menjadi wanita. Because as a woman, we all know that a woman`s work is never done :)






0 komentar:
Posting Komentar