sisca dianita blog. Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

Pilihan vs Kebahagiaan

Ada satu cerita ketika saya bepergian di suatu kota dimana disitu tinggal seorang perempuan cantik kira-kira seumuran dengan saya (yang belum tahu umur saya, tebak aja ^-^). Kebetulan dia adalah teman lama kurang lebih 6 tahun ini. Kami sangat dekat. Dekat karena hubungan pertemanan. Lama tidak saling bertemu. Ketika pertemuan itu ada, sempat terkejut melihat perubahan drastis penampilannya. Dulu dia begitu polos. Mungkin kalau boleh saya bilang...cenderung terkesan lugu. Sekarang perubahannya sangat mencolok. Dari yang dulu tanpa make up, rambut panjang selalu digelung, baju yang bisa dikatakan nggak fashionable, sekarang tampil lebih modis, make up yang membuat wajahnya terlihat segar di usia kepala 3, dan rambut panjang semi girly. Cantik sekali!

Cerita panjang lebar tentang dua anaknya yang sekarang sudah masuk di SD dan PAUD, rumah yang baru dibelinya di kawasan elit, kerjaan dia yang nggak kenal waktu, dan sebagainya. Dia juga cerita bahwa sekarang dirinya harus berjuang sendiri menghidupi anak-anaknya. Dia memutuskan bercerai karena sang mantan suami tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup yang semakin besar. Meski dia harus melakoni apa garis tangan kehidupannya, senyum itu selalu ada di wajahnya dan semakin membuat dia tampil cantik.

Namun satu kejujuran membuatnya meneteskan airmata ketika bercerita tentang satu hal yang benar-benar privasi kepada saya. Ini terkait dengan bagaimana dia mendapat tambahan dana segar untuk kelanjutan hidupnya dan anak-anaknya. Selama kurang lebih 5 tahun ini, ia menjadi istri siri seorang pria berstatus suami orang. Gaji per bulan yang ia dapatkan dari pekerjaan sehari-hari tidak mencukupi hidup yang semakin susah di jaman ini. Dengan air mata berlinang namun senyum tersungging di wajahnya, ia mengatakan bahwa dirinya bahagia.

Saya bukanlah seorang hakim yang bisa men-judge jalan yang ia ambil, saya bukanlah seorang malaikat yang setiap saat bisa membantu dia, saya bukanlah orang suci yang akan mengolok-ngolok nyinyir kisahnya, dan saya bukanlah golongan orang-orang yang ikut menghakimi keputusannya. Yang jelas....Happiness isn`t a dependency. It`s a desicion.

-special for "A"-

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar